Hubungi kami melalui WhatsApp
UKM Mapala UBL Melakukan Pendakian

Aksi Anggota Muda Mapala UBL Mendaki Tiga Gunung berhasil dilepas secara resmi untuk menjalankan misi pengembaraan penjelajahan tiga gunung megah di Provinsi Lampung, yakni Gunung Pesagi, Gunung Tanggamus, dan Gunung Rajabasa. Kegiatan ekspedisi alam terbuka yang berlangsung pada Selasa (27/7) ini menjadi momentum penting dalam pembinaan mental, fisik, serta pengasahan keahlian navigasi bagi para kader pecinta alam di lingkungan perguruan tinggi.

Pelaksanaan kegiatan pengembaraan ini bukan sekadar agenda perjalanan atau penyaluran hobi mendaki semata. Lebih dari itu, aksi penjelajahan alam bebas ini merupakan tahapan kurikulum wajib yang harus dilalui oleh setiap anggota muda Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Mahasiswa Pecinta Alam “Waka Pullan Tuha” Universitas Bandar Lampung. Melalui tahapan ini, para peserta dituntut untuk mampu menerapkan prinsip-prinsip pencinta alam dan manajemen perjalanan secara aman dan terukur.

Syarat Mutlak Anggota Muda Mapala UBL Menjadi Anggota Biasa

Dalam struktur organisasi keorganisasian UKM Mapala “Waka Pullan Tuha”, pengembaraan tiga gunung ini memegang peranan yang sangat vital. Misi ini dirancang khusus sebagai syarat utama bagi para Anggota Muda Mapala UBL untuk menempuh alih status menjadi anggota biasa atau anggota utuh. Tanpa menyelesaikan tahapan krusial ini, seorang anggota muda tidak akan bisa memperoleh Nomor Induk Anggota (NIA) resmi dari organisasi.

Proses penetapan Nomor Induk Anggota (NIA) memiliki kedudukan kehormatan tersendiri. NIA bukan sekadar rentetan angka administratif, melainkan simbol identitas, dedikasi, serta loyalitas penuh terhadap nilai-nilai kelestarian lingkungan dan kebersamaan di Universitas Bandar Lampung. Oleh karena itu, persiapan matang baik secara teori navigasi darat, kesiapan fisik, manajemen logistik, hingga pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K) telah matang disiapkan jauh-jauh hari sebelum pelepasan keberangkatan.

Ketua UKM Mapala “Waka Pullan Tuha”, Suparman, menegaskan bahwa penjelajahan ini membawa misi besar yang melampaui batas-batas kegiatan fisik semata. Selain sebagai pemenuhan syarat organisasi, ekspedisi ini difungsikan sebagai media pembelajaran langsung di lapangan mengenai kondisi alam terkini di wilayah Lampung.

“Selain itu juga kegiatan ini adalah suatu wadah observasi tentang keseimbangan ekosistem,” ungkap Suparman saat menyampaikan sambutan pelepasan tim pengembaraan.

Jelajah Tiga Atap Gunung Eksotis di Lampung

Pemilihan tiga lokasi pendakian—Gunung Pesagi, Gunung Tanggamus, dan Gunung Rajabasa—bukan tanpa alasan. Masing-masing gunung memiliki karakteristik medan, keanekaragaman hayati, serta tantangan bentang alam yang unik. Hal ini memberikan ruang belajar yang sangat komprehensif bagi para peserta pengembaraan.

  • Gunung Pesagi: Merupakan puncak tertinggi di Provinsi Lampung yang terletak di Kabupaten Lampung Barat. Puncak Pesagi menawarkan tantangan jalur pendakian yang menanjak terjal dengan vegetasi hutan hujan tropis yang masih sangat lebat dan asri. Di sini, peserta diajak untuk mempelajari struktur vegetasi dataran tinggi.
  • Gunung Tanggamus: Dikenal dengan karakteristik hutan lumutnya yang eksotis dan kelembapan udara yang tinggi. Jalur pendakian yang licin serta rapatnya pepohonan menuntut kewaspadaan penuh dan ketelitian navigasi dari para anggota ekspedisi.
  • Gunung Rajabasa: Gunung berapi yang menjulang di wilayah Lampung Selatan ini memiliki daya tarik berupa danau kawah di puncaknya serta keanekaragaman flora fauna pesisir dataran tinggi yang berbatasan langsung dengan Selat Sunda.

Sepanjang perjalanan menaklukan ketiga puncak tersebut, para Anggota Muda Mapala UBL ditugaskan untuk mengumpulkan data riil terkait kondisi vegetasi, keberadaan keanekaragaman hayati, hingga potensi dampak aktivitas manusia terhadap kelestarian lingkungan sekitar. Pendataan ini menjadi bagian terintegrasi dari riset observasi ekosistem gunung yang mereka lalui.

Menjaga Keseimbangan Ekosistem dan Nilai Kebangsaan

Di tengah tantangan perubahan iklim global dan ancaman deforestasi, peran mahasiswa pecinta alam semakin krusial. Pembekalan pengetahuan ekologi selama pengembaraan diharapkan mampu membentuk mental pencinta alam yang tanggap dan peduli. Hasil data lapangan yang didapat dari observasi ini nantinya akan disusun dalam bentuk laporan kerja tertulis dan dipresentasikan di hadapan senior serta pihak kampus.

Langkah nyata ini sejalan dengan komitmen akademis yang terus digelorakan oleh kampus Universitas Bandar Lampung dalam mendukung pilar pembangunan berkelanjutan serta kepedulian lingkungan hidup. Pendidikan karakter berbasis alam terbuka dinilai efektif dalam mencetak generasi muda yang tangguh, mandiri, berintegritas, serta memiliki kepekaan sosial ekologis yang tinggi.

Melalui semangat kebersamaan dan pantang menyerah, keempat anggota muda yang menjalankan misi ini diharapkan dapat menyelesaikan seluruh rangkaian pendakian dengan selamat hingga kembali ke baseline kampus. Keberhasilan ekspedisi ini tentu akan menjadi catatan sejarah membanggakan bagi perjalan organisasi UKM Mapala “Waka Pullan Tuha” dalam mencetak kader-kader pelestari alam yang berkualitas di masa depan.